Minggu, 13 September 2009

Pengelolaan Dampak Sosial Pembangunan Jembatan Suramadu


Oleh : Ir. Iwan Sarkezy


Pengeloaan dampak sosial merupakan upaya mengelola dampak-dampak sosial negatif maupun positif yang diprediksikan akan terjadi di saat dan setelah pembangunan jembatan Suramadu dilaksanakan. Kegiatan ini penting dilaksanakan sebagai bagian dari upaya social safeguard (pengamanan sosial). Pemberdayakan masyarakat lokal diperlukan agar masyarakat tidak hanya sebagai penonton, untuk itu diperlukan langkah-langkah kongkrit dan skenario kebijakan sosial ekonomi yang berpihak pada masyarakat. Permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat perlu segera dituntaskan, potensi-potensi sosial ekonomi yang tumbuh di masyarakat perlu dikembangkan, skenario tata ruang sisi Madura dan Surabaya perlu dipertimbangkan agar dapat saling bersinergi sesuai kemampuan masing-masing guna meningkatkan kesejahteraan di masyarakat baik di sisi Surabaya maupun di sisi Madura. Di sisi lain optimalisasi pemanfaatan jembatan harus diperhatikan faktor pengawasan dan pengamanan jembatan, agar jembatan dapat berfungsi dan bermanfaat sesuai dengan umur rencana yang telah ditentukan.

A. PENDAHULUAN

Jembatan Suramadu dapat dikatakan sebagai jembatan terpanjang di Indonesia saat ini, yang menjadikannya salah satu landmark dan ikon Indonesia, khususnya masyarakat Jawa Timur. Pembangunan Jembatan Suramadu merupakan upaya untuk memberikan kenyamanan dan kecepatan waktu tempuh. Jembatan ini dilengkapi jalur khusus untuk sepeda motor di sisi kanan dan kirinya. Panjang jembatan 5,7 km, sementara panjang bentang tengah jembatan 424 meter dengan ketinggian 35 meter, sehingga tetap bisa dilalui kapal.

Jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura tersebut, telah diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yodoyono pada 10 Juni 2009 dan telah dioperasikan mulai 17 Juni 2009.

Pembangunan jembatan ini ditujukan untuk mempercepat pembangunan di pulau Madura, meliputi bidang infrastruktur dan ekonomi di Madura, yang relatif tertinggal dibandingkan kawasan lain di Jawa Timur. Mobilitas Madura diperkirakan bertambah cepat dan banyak, baik mobilitas penduduk, pelaku ekonomi, maupun barang dan jasa. Kebutuhan transportasi akan menjadi kebutuhan vital untuk pergerakannya.

Dari segi wilayah, Madura memiliki banyak lahan yang bisa dimanfaatkan untuk terminal transpotasi laut dan zona ekonomi ekslusif untuk investasi. Seperti halnya Batam yang memanfaatkan kedekatannya dengan Singapura, Madura juga harus memanfaatkan kedekatannya dengan Surabaya. Investor akan mencari tempat selain Surabaya yang sudah semakin sempit[1]. Sehingga, ditinjau dari segi ekonomi dan teknologi industri, potensi wilayah di Pulau Madura cukup menjanjikan antara lain kaya akan tambang seperti kapur sebagai bahan untuk semen, gas alam dan cadangan minyak yang belum dieksplorasi, disamping perikanan, kerajinan lokal dan pariwisata.

Namun, di sisi lain, adanya kekhawatiran masyarakat Madura akan sebuah proses industrialisasi yang semakin berkembang dan meningkat seiring dengan pembangunan Jembatan Suramadu. Sumber Daya Manusia dirasa masih belum mencukupi untuk dapat bersaing dengan derasnya proses industrialisasi, para pendatang akan lebih mudah berlalu lalang memasuki pulau Madura, dikhawatirkan oleh masyarakat Madura sebagai faktor yang dapat merubah kehidupan sosial, budaya dan keagamaan yang selama ini dikenal sebagai kaum santri dan agamis.

Perubahan sosial seiring dengan pembangunan jembatan Suramadu dapat terjadi sebagai “ social change” atau “ planned change”, tetapi dapat juga terjadi sebagai perubahan sosial yang tidak direncanakan (unplanned change), seperti timbulnya konflik-konflik masyarakat, kriminalitas, anarkis, penjarahan sebagai akibat dari kecemburuan sosial , dll. Oleh karena itu pengelolaan dampak sosial sangat diperlukan sebagai langkah penataan strategis guna mendayagunakan kekuatan politis demokratis (pemerintah) pro rakyat untuk dapat memberikan perlindungan secara konstitusional baik melalui undang-undang, peraturan pemerintah/daerah, atau jabatan-jabatan formal, disamping itu juga perlu dimobilisasikan aspek-aspek tradisional (local wisdom) yang telah tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, yang dipandang dapat dimanfaatkan sebagai unsur penunjang proses perubahan tersebut.

B. SOCIAL MAPPING TENTANG PERBEDAAN SOSIO KULTURAL MASYARAKAT MADURA DAN SURABAYA

Pembangunan Jembatan Suramadu bukan saja menghubungkan kedua pulau Jawa dan Madura, namun juga menghubungkan dua kultur masyarakat yang sangat mencolok perbedaannya.

Kultur masyarakat di Madura memiliki ciri khusus seperti adanya donimasi etnik Madura yang bersifat homogen dicirikan dengan penggunaan bahasa Madura sebagai bahasa sehari-hari. Masyarakat Madura memiliki pembawaan yang berpijak pada nilai-nilai adiluhung, ulet, pekerja keras, berkewirausahaan, petualang, hemat, dan cermat, serta keharmonisan yang memiliki keterkaitan kuat dengan Agama. Dipandang dari akses perekonomian, masyarakat Madura memiliki lack of access dalam perekonomian, dengan pola hidup pedesaan dimana sektor pertanian dan nelayan mendominasi perekonomian di Madura. Namun dalam segi pendidikan sebagian besar masyarakat Madura masih lemah, pesantren dipandang masyarakat sebagai metode pendidikan yang lebih sesuai, sekolah menengah unggulan dan kejuruan masih terbatas, dan saat ini baru terdapat satu Universitas Negeri dan beberapa Universitas Swasta di Madura. Budaya paternalistik sangat melekat di tatanan kehidupan bermasyarakat, masyarakat Madura lebih memegang teguh pada nilai-nilai tradisional yang telah tumbuh dan lestari sebagai bagian dari kehidupannya sehari-hari. Peran pemuka masyarakat sebagai panutan lebih kental seperti adanya tatanan kepemimpinan di masyarakat baik secara formal maupun non formal seperti kyai, kepala Desa dan Blater (jawara).

Di sisi lain, kultur masyarakat Surabaya sangat mencolok perbedaannya. Dominasi etnik Jawa heterogen sangat terlihat di sisi Surabaya yang kental dengan penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Untuk akses perekonomian, masyarakat Surabaya jauh lebih baik ketimbang masyarakat Madura, hal ini terlihat dengan adanya pola hidup perkotaan yang cepat dengan akses informasi, teknologi dan modernisasi dengan sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya adalah buruh dan nelayan. Di sektor pendidikan , masyarakat Surabaya jauh memiliki keterdidikan yang lebih tinggi, berbagai perguruan tinggi dan sekolah menengah unggulan tersedia. Masyarakat Surabaya terlihat lebih terbuka terhadap budaya baru, gaya hidup, pola makan, pola bahasa dan penyesuaian dengan perubahan arus teknologi. Peran pemuka masyarakat sudah tidak terlalu dominan sebagai sosok kharismatik pengayom rakyat, masyarakat lebih tunduk kepada tataran formal kepemerintahan yang ada.

Perbedaan dan kesenjangan Sosio Kultural antara masyararakat Madura dengan Surabaya jangan sampai menimbulkan konflik kemasyarakatan. Kesenjangan Sosio Kultural perlu dikelola dengan sebaik mungkin guna melaksanakan pemecahan, penanganan dan pengelolaan permasalahan lingkungan sosial yang terjadi. Seperti untuk menyikapi modernitas (industrialisasi) adanya Jembatan Suramadu jangan menjadi ancaman bagi masyarakat Madura. Konkritnya jangan memandang masyarakat Madura sebagai obyek tapi jadikan masyarakat Madura juga sebagai subyek, dan jangan memandang masyarakat Madura sebagai insan yang tidak memiliki kemampuan dan harga diri, persoalan penting adalah bagaimana menfasilitas mereka sebagai “people driven”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar